Selamat Datang di web Fuad Mishbah

Minggu, 06 November 2011

Pasang Surut Perkembangan Pasar Tradisional

Dalam dua tahun terakhir ini, ekonomi dunia mengalami resesi yang berdampak pada lesunya pertumbuhan perekonomian, baik di kancah global maupun nasional. Di Indonesia,  pergolakan ekonomi menjelang penghujung tahun 2010 menjadi perhatian banyak kalangan, baik para pengamat ekonomi, pelaku bisnis maupun masyarakat umum. Bagi sebagian besar ekonom, gonjang-ganjing perekonomian ini tentu berdampak pada mandegnya hajat hidup orang banyak.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerihtah mencapai 6% pada periode lalu, nyatanya hanya menjangkau beberapa kalangan khusus, seperti para pelaku bisnis besar. Padahal, jika menilik pertumbuhan ekonomi menengah ke bawah, target pertumbuhan ekonomi yang dicanakangkan itu tak dirasakan langsung oleh rakyat dan belum menyejahterakan.
Fluktuatifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia ini, secara logistik ikut mempengaruhi perkembangan beberapa usaha makro dan mikro. Hal ini tergambar dari kenaikan beberapa komoditas pangan primer yang cukup mencekik modal usaha dan perkembangan bisnis ritel seperti pasar tradisonal dan pasar modern. Namun, tentunya efek dari gelombang ekonomi ini akan dirasakan secara berbeda-beda oleh pengembang pasar tradisional dan pasar modern.
Fakta menjamurnya pasar modern di hampir semua daerah di Indonesia, cenderung meningkatkan iklim kompetisi yang ketat dan lambat-laun menggerus eksistensi pasar tradisional. Meski survei AC Nielsen di tahun 2009 menunjukkan grafik positif dari pangsa pasar tradisional yang mencapai 80%, namun ini bukan posisi aman. Di tahun 2010, Nielsen memprediksi adanya penurunan pangsa pasar tradisional menjadi 70% - 67%, sedangkan pasar modern meningkat 30% - 37%.
Kenyataan ini setidaknya menggambarkan pasang surut perkembangan pasar tradisional di tengah geliatnya arena kompetisi pasar ritel. Pasang surutnya perkembangan pasar tradisional, setidaknya dipengaruhi oleh beberapa faktor: pertama, pesatnya pertumbuhan usaha ritel modern. Berdasarkan data Nielsen per tahun 2010, pertumbuhan gerai Alfamart mencapai 4.000 gerai, sedangkan Indomart berjumlah 4.110 gerai. Statistik pertumbuhan pasar modern ini menunjukkan persaingan antara pasar tradisional dan modern, dimulai dari perang harga, kualitas barang, kenyamanan belanja, dan ketersediaan lokasi pasar.
Kedua, tata kelola pasar. Problem tata kelola pasar memang masih menjadi perkara panjang yang dirasakan dalam upaya pembangunan pasar tradisional. Selama ini, mudah kita temukan berbagai alasan sederhana terkait sikap konsumen pasar tradisional yang berpaling ke pasar modern, di antranya karena lokasi pasar yang tidak strategis dan terpusat. Misalkan, dalam satu kecamatan hanya terdapat 1-2 pasar tradisional saja, sedangkan pasar moder jauh lebih menjamur dan hampir di setiap lokasi strategis. Selain itu, pengelolaan pasar perlu dilakukan dengan tujuan meningkatkan kenyaman transaksi jual beli.
Ketiga, finansial. Masalah finansial ini erat kaitannya dengan modal usaha para pedagang dan pengelolaan pasar. Kekuatan finansial merupakan syarat penting, sebab kenyataan fluktuasi situasi ekonomi juga berdampak dalam kelancaran usaha mereka. tak sedikit pedagang pasar harus menutup lapaknya karena modal yang dikeluarkan tak sepadan dengan omset usahanya. Keadaan makin terpuruk saat pasar pun tak dikelola dengan baik. Jika kebanyakan pedagang mengalami hal ini, mau tak mau pasar tradisional pun sepi pedagang dan imbasnya pada ketersediaan barang yang terbatas.
Keempat, asosiasi negatif media terhadap pasar tradisional. Harus diakui, dalam kehidupan serba instan ini, media memainkan peran cukup penting, terutama menyangkut penciptaan image dan simulasi kenyataan. Media secara massal mampu memproduksi berita dengan ragam perspektif tentang berbagai bidang kehidupan, termasuk menyoroti persoalan ekonomi dan bisnis.
Dalam hal ini, pasang surut perkembangan pasar tradisional juga dipengaruhi oleh media. Setidaknya, di media telah banyak iklan bisnis yang menyoroti keunggulan pasar modern. Sebaliknya, pasar tradisional kerap diasosiasikan sebagai pasar yang kotor, becek, bau, dan jorok. Image buruk itu kemudian semakin kuat dengan gambar-gambar yang disajikan media secara eksplisit. Sederhanya, media lebih banyak menyoroti potret buram pasar tradisional.
Derasnya arus pasang surut perkembangan pasar tradisional saat ini, memang belum kuat untuk menggerus keberadaan pasar tradisional. Tapi, tidak menutup kemungkinan pasar tradisional makin tersisihkan jika beberapa faktor di atas tak dibenahi. Diharapkan, pemerintah bisa mengambil langkah prefentif untuk menangani masalah ini, minimal melakukan langkah revitalisasi sebagai upaya menata dan menjaga eksistensi pasar tradisional. Bagaimanapun, pasar tradisional sudah menjadi bagian penting dari budaya bangsa ini.

Salam Kompasiana

by: http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/03/23/pasang-surut-perkembangan-pasar-tradisional/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar